Devonte Graham Bahagia Bisa Lanjutin Karirnya di Eropa

devonte-graham-bahagia-bisa-lanjutin-karirnya-di-eropa

Devonte Graham Bahagia Bisa Lanjutin Karirnya di Eropa. Devonte Graham, mantan guard NBA yang dikenal dengan tembakan jarak jauhnya, tengah menjadi sorotan setelah menandatangani kontrak satu tahun dengan Crvena Zvezda di Serbia pada 1 Agustus 2025. Dalam wawancara dengan kanal YouTube resmi klub, Graham mengungkapkan kebahagiaannya bisa melanjutkan karier di EuroLeague, kompetisi basket tertinggi di Eropa. Setelah enam musim di NBA, kepindahannya ke Eropa menandai babak baru bagi pemain berusia 30 tahun ini. Dengan antusiasme menyambut tantangan baru bersama klub yang memiliki basis fans fanatik, Graham siap membuktikan diri di panggung internasional. Apa yang membuatnya bahagia, dan bagaimana respons fans NBA? Berikut ulasan lengkapnya. BERITA LAINNYA

Siapa Devonte Graham
Devonte Graham, lahir pada 22 Februari 1995 di Raleigh, North Carolina, adalah point guard setinggi 6 kaki 2 inci yang menonjol selama kariernya di University of Kansas. Di musim seniornya (2017/2018), ia meraih gelar Big 12 Player of the Year dengan rata-rata 17,6 poin dan 7,2 assist per laga, membawa Kansas ke Final Four NCAA. Dipilih sebagai pick ke-34 oleh Atlanta Hawks di NBA Draft 2018, ia kemudian ditukar ke Charlotte Hornets, di mana ia mencatatkan musim terbaiknya pada 2019/2020 dengan 18,2 poin dan 7,5 assist per laga, finis kelima dalam voting Most Improved Player.

Graham juga bermain untuk New Orleans Pelicans dan San Antonio Spurs, dengan total 345 pertandingan NBA, rata-rata 11,1 poin dan 4,3 assist sepanjang kariernya. Salah satu momen ikoniknya adalah buzzer-beater dari jarak 61 kaki melawan Oklahoma City Thunder pada 2021 saat membela Pelicans. Selain itu, ia sempat bermain di G League bersama South Bay Lakers pada 2024/2025, mencatatkan 10,8 poin dan 4,4 assist dalam lima laga. Dengan pengalaman dan kemampuan playmaking-nya, Graham kini bergabung dengan Crvena Zvezda, klub yang juga diperkuat eks-pemain NBA seperti Jordan Nwora dan Isaiah Canaan.

Kenapa Dia Tidak Melanjutkan Karirnya di NBA
Meski memiliki karier NBA yang solid, Graham menghadapi tantangan dalam beberapa musim terakhir. Setelah musim puncaknya bersama Hornets, performanya menurun di Pelicans, dengan rata-rata 5,3 poin dalam 28,4 menit per laga pada 2021/2022. Setelah ditukar ke Spurs pada 2023, menit bermainnya semakin terbatas, hanya 13,6 menit per laga di musim 2023/2024, dengan 5,0 poin dan 2,1 assist. Kompetisi ketat di backcourt Spurs, yang dipimpin Tre Jones dan Cameron Payne, membuatnya sulit mendapat peran besar. Pada Juli 2025, Graham ditukar ke Charlotte Hornets bersama pick ronde kedua, namun langsung dilepas dan menjadi free agent.

Minimnya tawaran kontrak dari klub NBA, ditambah pengalamannya di G League yang tidak membuahkan roster permanen, mendorong Graham mencari peluang di luar Amerika. Crvena Zvezda menawarkan peran sebagai playmaker utama, sesuatu yang sulit ia dapatkan di NBA karena persaingan dengan guard muda seperti Anfernee Simons atau Shaedon Sharpe saat sempat bergabung dengan Portland Trail Blazers secara singkat. Selain itu, insiden DWI (mengemudi dalam pengaruh alkohol) pada 2022, yang berujung suspensi dua pertandingan dari NBA, sempat merusak reputasinya, meski ia telah menyelesaikan masalah hukum tersebut. Kepindahan ke Eropa menjadi kesempatan baginya untuk menghidupkan kembali karier dengan peran lebih besar dan panggung kompetitif EuroLeague.

Respons Fans NBA Terhadap Devonte Graham
Kepindahan Graham ke Crvena Zvezda memicu respons beragam dari fans NBA, terutama di kalangan pendukung Hornets dan Spurs. Di platform seperti X, fans Hornets mengenang masa jayanya pada 2019/2020, dengan beberapa berkomentar, “Devonte pantas dapat lebih banyak kesempatan di NBA” dan “Buzzer-beater 61 kaki itu legenda!” Banyak yang menyayangkan kurangnya menit bermainnya di Spurs dan berharap ia bisa kembali ke NBA setelah musim sukses di Eropa. Fans Kansas Jayhawks juga menunjukkan dukungan besar, memuji langkahnya ke EuroLeague sebagai “keputusan cerdas” untuk menjaga karier tetap hidup.

Namun, beberapa fans lebih skeptis, menyoroti penurunan performanya sejak meninggalkan Hornets dan melihat kepindahan ini sebagai tanda bahwa Graham mungkin telah mencapai puncaknya di NBA. Beberapa cuitan menyebutkan, “Dia bagus, tapi NBA sekarang penuh guard muda yang lebih cepat.” Meski begitu, mayoritas fans menghargai keberaniannya mengambil tantangan baru di Serbia, terutama dengan klub sekelas Crvena Zvezda yang dikenal dengan atmosfer suporternya yang luar biasa. Dukungan ini diperkuat oleh fakta bahwa Graham bergabung dengan eks-pemain NBA lain, yang menunjukkan bahwa EuroLeague kini menjadi destinasi menarik bagi veteran NBA.

Kesimpulan: Devonte Graham Bahagia Bisa Lanjutin Karirnya di Eropa
Devonte Graham menunjukkan semangat baru dengan bergabung bersama Crvena Zvezda, menyatakan kebahagiaannya atas kesempatan memulai babak baru di EuroLeague. Dengan rekam jejak sebagai playmaker andal di NBA, ia membawa pengalaman berharga ke Serbia setelah menghadapi tantangan di Spurs dan G League. Kepindahannya ke Eropa, didorong oleh minimnya peluang di NBA, mencerminkan keberanian untuk mengambil risiko demi karier yang lebih panjang. Respons fans NBA yang beragam, dari nostalgia hingga dukungan penuh, menunjukkan bahwa Graham tetap memiliki tempat di hati penggemar, terutama karena momen ikoniknya. Jika mampu bersinar di EuroLeague, Graham berpotensi membuka pintu kembali ke NBA atau menorehkan legasi baru di Eropa, membuktikan bahwa kariernya masih jauh dari selesai.

 

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *